Kamis, 28 November 2013

Sholat Ied, waktu Indonesia bagian Pacitan..


Widiiih baru saja mendapat update-an terbaru kalau adek sepupu gue Bona Dea Kometa, jadi finalis Asia Next Top Model cycle 2. Keren ya. Iya dong #saudara_harus_ikut_senang. Sedikit cerita tentang Dea pernah gue tulis beberapa abad yang lalu disini.

Nah karena sepupu gue bakalan goes Asiyenel, maka gue akan bercerita dengan bintang tamu kakak gue, Mba Rini.. Tentang Mba Rini, pernah diceritakan di postingan yang ini . *Terus Dea nongol : laaah bukan aku ya mbak?*.. Eh.. bukan haha.. 




Sesungguhnya cerita ini adalah rahasia yang sudah terkubur di ingatan Mba Rini yang paling dasar. Baginya kisah ini merupakan aib terbesar dalam hidupnya mengalahkan malu ketika kapster salon nanya kenapa kepalanya ada pitak. Tentu saja dijawab, lagi musim rontok padahal aselinya keseringan dicabutin



Apah Marimar?,,, ada yang bocorin rahasia guweh?

eittss, jangan marah.. jangan maraahh... 


Pacitan

Yang paling gue ingat tentang Pacitan selain alam dan pantainya yang kece adalah perjalanan mudik lebaran yang benar-benar MUDIK.  Nyupir mudik ke Yogya? Biasaa,,, kecil itu mah.. Coba dilanjutkan nyupirnya ke Pacitan tepatnya desa Lorok yang berjarak satu jam dari Pacitan. Siap-siap gempor antar kota antar propinsi.
Sepanjang perjalanan mudik tema lagu pengiringnya adalah mars Ninja Hatori.
Kenapa? Soalnya beneran kita harus mendaki gunung lewati lembah persis kayak menuju tempat yang ada di lukisan pemandangan desa Indonesia. 

Tapi yang lebih seru kalau kita menjumpai rombongan takbir keliling. Rasanya mak nyess ketika berpapasan dengan warga yang konvoi naik truck terbuka, kendaraan pribadi atau hanya berjalan kaki sepanjang gunung membawa obor. Sesuatu yang jarang gue lihat di Jakarta.



Bicara tentang asal muasal jadi teringat percakapan kecil dengan seorang teman lama.



Gue       : " Madonna, kamu asli mana?" *nama disamarkan, aslinya Asia Ariyani.. lah dikasih tau gitu*

Madonna   : " Asli jakarta dong, lo dew? " 
Gue         : " Bapak solo, ibu Pacitan, lahir di Flores, nyaris nyawa melayang di Ambon, besar di Boyolali ama Solo, terus sekarang di Jakarta. Nah kira-kira asli mana tuh?"
Madonna   : " Ih ribet ya, kirain Manado... ?" 
Gue         : "Mbikikikikkk.. Manado darimana? upil? mbikikikk?".. Akting unyu-unyu banget kan? Padahal aseliknya mah. OH-MY-RIHANNA.. hidung ini pasti kembang tapi nggak kempis-kempis saking senengnya. 
Madonna   : " Mudiknya?" Percakapan ini bisa selesai cukup dengan asl pls.
Gue           : " Lorok" *Iya, gue tau,, namanya mak ho-hah banget memang*
Madonna   : " Lorok? Elo ROk? Kalau gue celana panjang"
Kami           : " Wkwkwkwkwk" (baca: wekawekawekawekaweka) 




Mas Riyan,, tulong, mas..
Iki mbaknya sutris nggak sembuh-sembuh



... saking jayusnya yang bikin pingsan, sampai dikeplak-keplak penuh cinta tapi pakai bakiak sama mas Ryan Gosling. Ini masih seputar Indonesia aja bingung, gimana kalau gue peranakan Nagasaki dan Nagrek ya?.... 




Oiya, waktu kecil dulu suka baca majalah Anita Cemerlang atau Aneka Yess nggak? Itu loh majalah yang sebagian besar isinya cerpen. Biasanya suka ada cerita cinta di kampung halaman nenek toh? Apakah gue juga mengalaminya? Tentoe sadja... 


...Tidak... 



iiihh kasihaan deh...



Jadi nggak ada tuh pemuda-pemuda harapan bangsa Lorok yang menaruh hatinya padaku. Malah pada minta salam tempel, iya.. (itu anak-anak kecil, woooy)



Pernah gue dikenalkan dengan teman-teman sepupu gue, kita sebut saja jama'ah alay-ers Lorok. Rata-rata mereka mirip dengan Robertino, Christian Sugiono, Dude Herlino atau Vino G. Bastian


... oke ini gue ngayal.. 


Kalau mau disamaratakan, wajah mereka mirip dengan salah satu pemuda Pacitan yang terkenal. Bukaan, bukan pak SBY. Naah. Iyaaa, yang ituuu tuh... *diem-diem nunjuk mas Ibas. Tapi versi lebih kurus, hitam, petentang-petenteng, rambut ala alay pada masanya .. eh ini Ibas apa Andhika Kangen Band? (Iya,, ngenes banget memang)*   



Nah, tiap lebaran tiba Lorok's alay-ers ini selalu punya kebiasaan bertegur sapa yang khas :


Lorok's alay-ers    : "Sugeng ariyaadiiin.., Kosoong-kosssooong yooo?"

Sepupu           : " Sugeng ariyadiiiiinn... Iyoo, rek kosong-kosong." Juga berteriak.
Lorok's alay-ers    : " Eh mbaknya.. kosong-kosong ya mbak." 
Gue                   : *ngerogoh kantong celana* " Iyoo kok tau kalau kantong saya isinya kosong-osong semua?" 
Lorok's alay-ers   : 


ya ampun mbaknyaaa...
pantesan mereka langsung malas tebar pesona



Di rumah embah putri, seperti pada umumnya rumah nenek-nenek kita ketika musim lebaran tiba, kapasitas penghuninya dipastikan meningkat. Bisa dibayangkan yang biasanya rumah mbah putri itu sepi kini kamar mandi 4 biji harus dapat dibagi ke puluhan orang,,

Iya, kalau mau mandi tuh antriannya mirip event handshake JKT48. Tau sendiri kan kalau wanita sudah berkumpul, kalau mereka mandi rata-rata 15 menit sendiri. Jadi dengan antrian yang sedemikian rupa, malamnya gue dan Mba Rini memutuskan untuk menumpang mandi di rumah Bulik Etik yang jaraknya sekitar 1 km. Sekelumit cerita tentang Bulik Etik ada disinii,,




Lebaran 2004

Hari masih pagi, bahkan matahari masih berada di ufuknya, setelah selesai menumpang mandi, kami memutuskan untuk langsung menuju lapangan sholat Ied. 




Sambil berboncengan naik motor, kami menikmati udara desa di pagi hari. Kami menggoyang-goyangkan kepala supaya rambut panjang yang basah ini bisa berkibar cantik tertiup angin. 


Tentu harus lebay. Kayaknya sih biar mirip Raissa di iklan shampoo tapi penampakan aslinya sih lebih mirip personel band rock 80-an yang sedang konser. Iya Bon Jovi ama teman-temannya ituh.








Kami tiba di balai desa tempat dilaksanakannya sholat Ied. Masih terdengar sayup-sayup gema takbir. Jama'ah sudah ramai dan duduk rapi. Ada yang sudah mengenakan mukena, ada juga yg belum. Mungkin mereka juga baru tiba seperti kami. Gue putuskan untuk ke shaft paling depan (bukan karena rajin, tapi emang tempatnya sudah penuh, tinggal beberapa petak paling depan sendiri). 


Perjalanan seakan memakan waktu seabad lamanya. Melipir sana sini, permisi sana-sini. Apakah semua mata memandang? Oh pasteeehh... Mungkin selain wajah kami kurang ke-pacitanwati-an jarang-jarang juga kan lihat ada dua gadis tergopoh-gopoh dengan penampilan kuyub. 


Setelah mengenakan mukena, kami duduk kalem mirip Mamah Dedeh dan Ustad Solmed siap khotbah. Tentu saja kami juga manggut-manggut seakan-akan mengerti apa isi khotbahnya. Pura-pura anggun banget gitu deh. Gimana bisa ngerti, wong Bapaknya ceramah full pakai bahasa Jawa.. Kita kan fasihnya bahasa Uruguay?

... beberapa menit kemudian...


Ini kok laporan panitianya lama sekali ya? Sambil bertanya-tanya,, mungkin kebiasaan Pacitan beda dengan Jakarta. Mungkin juga disini sholat nya setelah khotbah. Akhirnya ceramah berbahasa jawa tadi berakhir dan semua orang mulai berdiri. Pasti sedang bersiap-siap sholat. Pasti. Gue yakin itu. 



Kami berdua juga berdiri siap-siap sholat

Etapi kok nggak mulai-mulai? 


Ternyata mereka yang sedang berdiri itu sedang melipat perlengkapan sholat masing-masing


Gue punya firasat buruk deh


Perlahan-lahan kami berdua memerosotkan diri, kembali duduk di posisi semula
Samping kanan-kiri kami ada beberapa Ibu-Ibu yang secara terang-terangan menatap kami sambil senyam-senyum dengan penuh arti.  



... jadi kami mulai berbisik sambil balas mesam-mesem ke Ibu-Ibu tadi... 

Gue              : " Mba, sholatnya sudah selesai. Kita telat. Gimana ini?." 

Mba Rini     : " Iya ya kita telat sih ya.."
Gue            : " Iya mba.. dah bubar HAHAHAHAHA"
Mba Rini      : " HAHAHAHAHAHAHHA." 
Gue            : " HAHAHAHAHAHAHA"


ketawa histeris
Mba Rini     : " HAHAHAHAHAHAHAHAH." *terus sadar* Apaaahh.. Bagaimana mungkin, Rudolfo? Aduh,, aduh aku malu sekali.. Bagaimana kalau sampai ada wartawan yang meliput kita dan menuliskannya ke headline Pacitan Post. Judulnya " Ada mba-mbak telat sholat Ied." Mukaku mau ditaroook dimanaa?? Ditarook dimanaa?? Haaaa.. Haaa?"
Gue            : " *untung gue nggak njawab... dihatimuuu*  


... terus kami pura-pura zikir... 
.. memicingkan mata.. 
... ngintip ke sekitar..

Mba rini     : " Bagaimana tampangku? Orang-orang udah pada pergi belum? Apa semuanya ngelihatin kita... Ngga ada yang ganteng kan?"" *menundukkan kepala dalam-dalam. Nyaris persis kayak maling kepergok. 

Gue           : *sekilas ngelirik* "Masih rame, paling bentar lagi pada pulang.." 

... Lalu semua orang berdiri..


.. Yess, pasti mereka akan pulang kerumah masing-masing..


... Salah besar saudarah-saudarah...


...Warga Lorok membentuk barisan layaknya mau antri salaman sama penganten baru...


... Ya benar, ini tradisi, semua jama'ah saling antri bersalaman dan bermaaf-maafan...


... Berhubung duduk didepan sendiri, alias ditengah-tengah balai desa, otomatis nggak bisa kabur..


... Hanya berharap gak ada seorang pun yang menyadari keterlambatan kami...


... Sesungguhnya itu adalah suatu hil yang mustahal...


.. Bangun dari duduk seanggun mungkin, lipat lagi mukenanya, dan segera ngacir ke barisan paling belakang,, kalau bisa ngumpet di keteknya kucing...




Jadi gimana rasanya terjebak didalam situasi tadi?


...



HUAHAHAAAASYYYEEEEMMMMMAHAHAHAH 

*untungnya malunya nggak sendirian* *seret mba Rini di kancah pertengsinan Indonesia*







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...